Pernah nggak sih kamu merasa sudah berlari sekencang mungkin seharian, tapi garis finis rasanya malah semakin menjauh? Kamu duduk di depan laptop sampai jam 9 malam, menatap layar dengan mata yang mulai perih, sementara notifikasi pekerjaan masih terus berdatangan. Rasanya lelah luar biasa, tapi anehnya, daftar pekerjaan (to-do list) tidak kunjung menyusut.
Ini adalah jebakan yang sering kita alami, Sahabat HAWA. Kita sering berpikir bahwa “lebih keras” dan “lebih lama” adalah kunci kesuksesan, padahal tanpa sadar, pola pikir itulah yang menjadi racun bagi ketenangan batin kita.
Sering kali, musuh terbesar produktivitas bukanlah kemalasan, melainkan ketidakefisienan yang bersembunyi di balik topeng “kerja keras”. Kita terjebak dalam hustle culture yang memuja kesibukan. Padahal, sibuk tidak selalu berarti produktif. Ketika kamu memaksakan diri bekerja tanpa henti dari pagi hingga larut malam, kamu sebenarnya sedang mengikis kemampuan otakmu untuk fokus.
Ada sebuah konsep menarik yang disebut Hukum Parkinson, yang dicetuskan oleh Cyril Northcote Parkinson. Ia mengatakan bahwa “pekerjaan akan meluas mengisi waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya.” Artinya, jika kamu memberikan waktu seharian penuh untuk menyelesaikan satu laporan, maka kamu akan menghabiskan seharian penuh untuk itu lengkap dengan prokrastinasi, scrolling media sosial di sela-sela kerja, dan melamun. Sebaliknya, jika kamu membatasi waktu pengerjaan hanya dua jam, otakmu akan dipaksa masuk ke mode deep work atau fokus tingkat tinggi.
Inilah alasannya mengapa bekerja “lebih keras” dengan menambah jam lembur justru menghancurkan waktumu. Kamu kehilangan momen berharga di malam hari yang seharusnya menjadi waktu untuk recharge energi.
Malam hari adalah waktu sakral untuk tubuh dan jiwamu melakukan reboot. Jika waktu ini terenggut, besok pagi kamu akan bangun dengan sisa kelelahan kemarin, menciptakan lingkaran setan yang tak berujung.
Lantas, bagaimana cara keluar dari jeratan ini? Mulailah dengan menetapkan “jam pulang” yang tegas, bahkan jika kamu bekerja dari rumah (WFH). Anggap jam 5 atau 6 sore adalah deadline mati. Dengan adanya batasan waktu yang ketat, kamu akan dipaksa untuk memprioritaskan tugas yang benar-benar penting dan menunda yang sepele. Belajarlah untuk tega pada diri sendiri demi kebaikanmu.
Ingatlah, produktivitas sejati bukan tentang seberapa banyak keringat yang menetes atau seberapa malam lampu kamarmu menyala. Produktivitas adalah tentang seberapa bijak kamu menggunakan energimu, sehingga kamu masih punya sisa tawa dan senyum untuk dirimu sendiri di penghujung hari.
Yuk, mulai atur ulang jadwalmu, berhenti “menyiksa” diri dengan jam kerja berlebihan, dan klaim kembali malam-malam tenangmu. Karena kamu berhak bahagia, bukan hanya sibuk.