JAKARTA, HAWA – Kabar mengejutkan datang dari jantung otoritas keuangan Indonesia. Mahendra Siregar, sosok senior yang dikenal sebagai diplomat ekonomi ulung, resmi meletakkan jabatannya sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini ia ambil serentak bersama dua petinggi lainnya, Inarno Djajadi dan I.B. Aditya Jayaantara, pada Jumat (30/01).
Keputusan ini tergolong berani mengingat pasar modal tanah air tengah berada dalam tekanan, menyusul koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan isu penyesuaian bobot MSCI. Namun, bagi Mahendra, langkah ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan sebuah pernyataan sikap.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan,” ungkap Mahendra secara tertulis saat menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Mundurnya Mahendra menandai babak baru dalam karier panjangnya yang telah membentang selama empat dekade. Memulai debutnya sebagai diplomat di London dan Washington D.C., Mahendra adalah tokoh kunci di balik berbagai kebijakan ekonomi strategis Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan, Wakil Menteri Keuangan, hingga Kepala BKPM. Sebelum dipercaya menakhodai OJK pada 2022, peraih gelar master dari Monash University ini juga sempat menduduki kursi Wakil Menteri Luar Negeri. Pengalamannya yang luas di dunia internasional seringkali menjadi “jangkar” kepercayaan investor asing terhadap stabilitas sektor keuangan nasional.
Meski kehilangan tiga pimpinan puncaknya sekaligus, OJK bergerak cepat untuk menenangkan pasar. Dalam pernyataan resminya, OJK menjamin bahwa mundurnya Mahendra dan tim tidak akan mengganggu fungsi pengawasan maupun stabilitas sistem keuangan.
“Proses pengunduran diri ini akan diproses sesuai mekanisme UU P2SK. Untuk sementara, tugas-tugas akan dijalankan sesuai tata kelola yang ada agar kontinuitas operasional tetap terjaga,” tulis pernyataan resmi OJK.
Para analis melihat pengunduran diri ini dengan kacamata yang cukup optimis. Alih-alih dianggap sebagai krisis, pasar menangkap sinyal tanggung jawab moral ini sebagai langkah “bersih-bersih” untuk mempercepat pemulihan.
Langkah Mahendra dinilai mirip dengan beberapa preseden di bursa saham, di mana pengunduran diri pimpinan di tengah gejolak justru sering kali menjadi katalisator bagi pasar untuk bergerak naik (rebound). Dengan fundamental sektor keuangan yang masih kokoh, fokus kini beralih pada siapa sosok yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di OJK.*/LIA