AMMAN, HAWA – Sebanyak 168 WNI terjebak di Amman, Yordania, menyusul pembatalan penerbangan massal akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah pada Maret 2026. Ratusan warga negara Indonesia tersebut merupakan rombongan wisata rohani yang tertahan setelah rute udara regional mengalami gangguan keamanan yang sangat signifikan.

Rombongan wisatawan tersebut dilaporkan tiba di Amman pada 01/03 setelah melakukan kunjungan ke Petra. Mereka mulai menghubungi pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia pada 02/03 melalui pesan singkat WhatsApp untuk meminta arahan kepulangan. Hal ini terjadi setelah maskapai yang seharusnya membawa mereka pulang membatalkan jadwal terbang secara mendadak.

“Kami 168 orang masih di Amman,” kata Dwie Ratna, salah satu peserta tur wisata rohani berusia 44 tahun tersebut.

Pihak perwakilan RI di Yordania telah menawarkan berbagai alternatif penerbangan melalui rute Kairo, Jeddah, atau Istanbul menggunakan maskapai Royal Jordanian. Meskipun rencana awal terbang melalui rute Dubai dibatalkan pada 03/03, tercatat sudah ada 27 orang yang berhasil dipulangkan lewat jalur alternatif di Kairo. Situasi ini terus dipantau untuk memastikan keselamatan seluruh WNI terjebak di Amman yang masih menunggu jadwal keberangkatan.

“KBRI segera merespons dan memberikan pilihan penerbangan alternatif yang dapat dipilih oleh rombongan tersebut,” kata pihak KBRI Amman dalam pernyataan resmi melalui Kementerian Luar Negeri RI.

Selain upaya repatriasi, pemerintah juga memastikan kebutuhan dasar para wisatawan tetap terpenuhi selama masa penantian di hotel. Bantuan berupa obat-obatan dan konsumsi menu makanan khas Indonesia telah didistribusikan kepada para WNI terjebak di Amman guna menjaga kondisi fisik mereka. Hingga saat ini, belum ada rencana evakuasi resmi menggunakan pesawat carter karena jalur komersial masih diupayakan sebagai solusi utama.