TEHRAN, HAWA – Militer Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi udara besar-besaran bertajuk Operation Epic Fury yang menargetkan fasilitas nuklir dan pimpinan tertinggi Iran. Serangan AS dan Israel ke Iran yang dimulai pada 28/02/2026 ini dikonfirmasi telah menewaskan Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi di Tehran.
Operasi militer ini melibatkan 125 pesawat tempur dan pengebom strategis yang menyasar 500 titik penting termasuk situs nuklir Natanz dan Fordow. Dalam waktu 12 jam, pasukan koalisi melepaskan hampir 900 serangan udara untuk melumpuhkan kekuatan tempur serta pusat komando Korps Garda Revolusi Islam.
“Salah satu tokoh paling jahat dalam sejarah, Khamenei, telah tewas,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pihak Iran segera melakukan retaliasi melalui operasi Fateh Khyber dengan meluncurkan rudal balistik ke basis militer Amerika Serikat di enam negara Teluk. Serangan AS dan Israel ke Iran memicu ketegangan hebat hingga Tehran mengklaim telah menutup total jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.
“Rakyat Iran memiliki kesempatan terbesar untuk merebut kembali tanah air mereka,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Kondisi di Timur Tengah kian memanas setelah Arab Saudi mengecam penggunaan wilayah udara untuk aksi militer tersebut. Sikap ini ditegaskan oleh pihak Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang menyatakan bahwa serangan tersebut tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun.
“Pengeboman berat dan serangan presisi akan terus berlanjut tanpa henti selama satu minggu,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Dampak dari serangan AS dan Israel ke Iran juga menyebabkan pembatalan 1.800 penerbangan komersial dan lonjakan harga minyak dunia. Para analis memprediksi harga minyak mentah Brent akan segera menyentuh angka 100 dolar per barel akibat ketidakpastian keamanan di kawasan tersebut.