PALU, HAWA – Kekayaan Elon Musk menurut laporan Oxfam International capai setengah triliun dolar AS pertama dalam sejarah.
Laporan Oxfam tersebut bertajuk “Resisting the Rule of the Rich: Protecting Freedom from Billionaire Power” pada Senin (19/1).
Laporan ini rilis bersamaan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Kekayaan Elon Musk soroti kenaikan total miliarder dunia US$2,5 triliun sepanjang 2025.
Kekayaan Elon Musk melonjak berkat valuasi Tesla, SpaceX, dan xAI. Laporan Oxfam catat kenaikan kekayaan kolektif lebih dari 3.000 miliarder dunia tembus US$18,3 triliun pada 2025.
Angka ini naik 16 persen, tiga kali lebih cepat dari rata-rata lima tahun sebelumnya. Sejak 2020, kekayaan mereka tumbuh 81 persen.
Kekayaan Elon Musk setara total aset 4,1 miliar orang termiskin dunia, atau setengah populasi global.
Menurut laporan tersebut Dana sebesar US$2,5 triliun atau setara Rp42,34 kuadriliun itu cukup untuk menghapus kemiskinan ekstrem sebanyak 26 kali.
Sementara itu, pengurangan kemiskinan global mandek seperti 2019. Satu dari empat orang dunia hadapi kerawanan pangan.
Selain itu, hampir separuh populasi global hidup dalam kemiskinan. Survei World Values di 66 negara ungkap hampir setengah responden yakini orang kaya beli pemilu di negara mereka. Miliarder juga 4.000 kali lebih mungkin pegang jabatan politik dibanding warga biasa.
“Kesenjangan yang melebar antara orang kaya dan yang lain ciptakan defisit politik sangat berbahaya dan tidak berkelanjutan,” kata Amitabh Behar, Direktur Eksekutif Oxfam International, pada Senin (19/1/2026).
Namun, pemerintah sering ambil pilihan salah demi elite. Mereka lindungi kekayaan sambil tekan hak rakyat hadapi biaya hidup tinggi.
Laporan Oxfam salahkan kebijakan Trump, termasuk memotong pajak orang kaya dan longgarkan regulasi monopoli. Valuasi perusahaan AI juga dorong kekayaan Elon Musk serta miliarder lain. Oleh karena itu, Oxfam desak pemerintah terapkan Rencana Pengurangan Ketidaksetaraan Nasional.
Pemerintah harus menaikkan pajak orang super kaya. Selain itu, pemerintah perkuat aturan lobi dan pendanaan kampanye miliarder. Pemerintah juga lindungi kebebasan sipil serta hak buruh. Meskipun begitu, 140 protes anti-pemerintah terjadi di 68 negara tahun lalu. Banyak protes hadapi kekerasan otoritas.
Kekayaan Elon Musk kuasai lebih separuh perusahaan media besar dunia tambah pengaruh opini publik. Laporan Oxfam tekankan hubungan ketidaksetaraan ekonomi dan politik rugikan warga biasa. Temuan ini harap dorong kebijakan global lebih adil.*/LIA