JEDDAH, HAWA – Sebanyak 58.873 jamaah umrah Indonesia saat ini berada dalam pengawasan ketat pemerintah menyusul penutupan ruang udara di delapan negara Timur Tengah pada Sabtu (28/02). Langkah mitigasi darurat segera diambil guna mengantisipasi gangguan penerbangan akibat eskalasi militer di kawasan tersebut.
Penutupan wilayah udara meliputi Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab akibat serangan militer gabungan. Kondisi ini membuat rute penerbangan bagi jamaah umrah Indonesia mengalami penyesuaian besar. Sejumlah maskapai internasional bahkan telah menangguhkan layanan mereka untuk menjamin keamanan operasional di zona konflik.
Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah merespons cepat dengan membentuk tiga tim darurat yang bekerja dalam tiga shift selama 24 jam. Personel tersebut ditempatkan secara strategis di Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal Haji Bandara Jeddah. Koordinasi intensif dilakukan dengan maskapai dan travel umrah untuk memastikan keselamatan jamaah umrah Indonesia.
“KUH telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara, yakni Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji. Langkah ini untuk memastikan pendampingan dan koordinasi berjalan optimal bagi jamaah yang terdampak perubahan jadwal penerbangan,” kata Muhammad Ilham Effendy, Staf Teknis Urusan Haji KUH Jeddah.
Selain penempatan personel, pemerintah juga meminta jamaah untuk melakukan lapor diri melalui portal resmi Peduli WNI milik Kementerian Luar Negeri. Hal ini penting untuk mempermudah komunikasi dan perlindungan bagi seluruh jamaah umrah Indonesia yang masih berada di Arab Saudi. Hingga saat ini kondisi di wilayah Arab Saudi dilaporkan masih aman dan aktivitas ibadah tetap berjalan normal.