CUPERTINO, HAWA – Raksasa teknologi Apple resmi mengumumkan penyesuaian harga produk Apple 2026 untuk lini MacBook Air dan MacBook Pro sebagai dampak langsung dari krisis pasokan chip memori global. Meskipun harga iPhone 17e dan iPad Air tetap stabil, kenaikan harga laptop mencapai 100 hingga 400 dolar AS karena tingginya permintaan pusat data AI yang menguras stok komponen dunia.

Apple menaikkan harga MacBook Air 13 inci menjadi 1.099 dolar AS dan model 15 inci menjadi 1.299 dolar AS mulai Selasa ini. Untuk lini profesional, MacBook Pro M5 Pro 14 inci kini dibanderol 2.199 dolar AS, sementara varian M5 Max 16 inci melonjak tajam menjadi 3.899 dolar AS demi menyeimbangkan biaya produksi yang meroket.

Sebagai langkah mitigasi bagi konsumen, perusahaan meningkatkan kapasitas penyimpanan dasar menjadi 512GB untuk MacBook Air dan 1TB untuk MacBook Pro. Selain itu, Apple Inc. memperkenalkan MacBook Neo seharga 599 dolar AS sebagai opsi laptop termurah pertama mereka untuk menjaga daya beli pasar di tengah krisis tersebut.

“Kami mengalami peningkatan signifikan dalam harga pasar untuk memori,” kata Tim Cook, CEO Apple Inc.

Krisis pasokan memori ini dipicu oleh kebutuhan masif industri kecerdasan buatan terhadap komponen DRAM, NAND, dan HBM. Gartner memperkirakan harga DRAM akan naik hingga 47 persen sepanjang 2026, yang menyebabkan kontribusi biaya memori terhadap material PC meningkat hingga 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“HDD, DRAM, HBM, NAND, semuanya mengalami kekurangan parah pada 2026,” kata Wallace Kou, CEO Silicon Motion.

Pihak produsen chip memori utama juga mengonfirmasi adanya kendala besar dalam memenuhi permintaan pasar elektronik konsumen. Kenaikan harga modul DDR5 sebesar 60 persen telah memaksa banyak produsen untuk merevisi label harga perangkat mereka ke publik.

“Kekurangan memori memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan harga,” kata Won-Joon Choi, COO Samsung Electronics Co., Ltd.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi Apple, tetapi juga seluruh ekosistem komputer pribadi termasuk Dell, HP, Lenovo, hingga ASUS. Para pengecer besar kini tengah berupaya mengelola alokasi stok untuk mengantisipasi kelangkaan barang di tingkat ritel.

“Industri saat ini sedang berusaha membawa masuk sebanyak mungkin inventaris sambil berkolaborasi dengan mitra memori untuk mengelola alokasi,” kata Corie Barry, CEO Best Buy Co., Inc.