HAWA.ID – Penemuan kembali tinggalan megalitik di kawasan Dongi-Dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, dinilai memperkuat indikasi bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu jalur penting persebaran budaya megalitik di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Arkeolog sekaligus budayawan di Sulteng Iksam Djorimi, mengatakan kawasan Dongi-Dongi sebenarnya telah lama diketahui memiliki potensi tinggalan budaya prasejarah.

Menurutnya, sekitar 15 tahun lalu di wilayah tersebut pernah ditemukan ratusan lumpang batu yang merupakan bagian dari tradisi megalitik di kawasan Lore.

“Sekitar 15 tahun lalu di wilayah ini ditemukan tinggalan megalit berupa ratusan lumpang batu. Penemuan yang sekarang menandakan masih banyak potensi cagar budaya yang belum ditemukan di kawasan ini,” kata Iksam.

Ia menjelaskan, wilayah penemuan tersebut dikenal dengan nama Koro Ue oleh masyarakat Kaili dan Lore. Kawasan itu diyakini sebagai salah satu titik penting dalam jejak penyebaran budaya megalitik di Sulawesi Tengah.

Dari Koro Ue, kata dia, jejak persebaran budaya megalitik diduga bergerak ke beberapa arah. Ke arah selatan dan barat daya menuju kawasan Lembah Palu, kemudian berlanjut ke arah timur menuju wilayah Parigi hingga Moutong.

Di sepanjang lereng pegunungan dari Parigi menuju Moutong, lanjutnya, terdapat sejumlah jejak tinggalan megalitik yang sebagian besar hingga kini belum didata secara resmi.

Selain itu, persebaran juga diperkirakan mengarah ke utara dari Koro Ue, mengikuti punggungan dan kaki pegunungan di sisi timur Lembah Palu hingga ke wilayah Tolitoli.

Sementara ke arah barat laut, jalur persebaran diduga mencapai punggungan pegunungan di sebelah barat Lembah Palu yang juga diketahui memiliki sejumlah tinggalan megalitik.

Menurut Iksam, informasi mengenai jalur persebaran tersebut tidak hanya didukung oleh temuan arkeologis, tetapi juga oleh cerita rakyat yang berkembang di masyarakat setempat.

“Dalam cerita rakyat disebutkan bahwa masyarakat Kaili yang kini mendiami wilayah Dolo merupakan perpindahan yang ke-14 dari wilayah Koro Ue atau Dongi-Dongi,” ujarnya.

Ia menilai keterkaitan antara temuan arkeologis dan tradisi lisan masyarakat menjadi petunjuk penting dalam memahami pola migrasi dan perkembangan budaya masyarakat prasejarah di wilayah Sulawesi Tengah.

Karena itu, penemuan terbaru di kawasan Dongi-Dongi dinilai menjadi pengingat bahwa masih banyak potensi situs budaya di wilayah tersebut yang belum terdokumentasi secara menyeluruh.

Pemerintah daerah dan para peneliti diharapkan dapat melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan nilai sejarah serta upaya pelindungan terhadap potensi tinggalan budaya tersebut.LIA