POSO, HAWA.ID – Penelitian arkeologi di kawasan Lembah Bada dan Lembah Napu, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, mengungkap temuan yang memunculkan dugaan adanya struktur besar menyerupai piramida yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan tanah.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Prof. Dhani Hilmana Tawijaya melalui serangkaian survei geofisika modern. Tim menggunakan teknologi georadar untuk memetakan pantulan gelombang bawah tanah, serta metode geolistrik guna membaca perbedaan resistivitas material di kedalaman tertentu.

Dari hasil survei di sekitar situs Palindo, tim mendeteksi adanya anomali bawah tanah berupa bentukan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan struktur geologi alami. Temuan ini membuka kemungkinan adanya struktur lain yang tertimbun, atau bahkan bagian dari kompleks yang lebih luas.

Namun, indikasi paling mencolok justru ditemukan di Lembah Napu. Di lokasi tersebut, tim mengidentifikasi sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 35 hingga 40 meter. Sekilas, bukit ini tampak seperti bentukan alami. Akan tetapi, hasil pengamatan lapangan dan analisis digital menunjukkan sejumlah kejanggalan.

Di sekeliling bukit, terindikasi adanya struktur menyerupai dinding granit dengan lebar mencapai beberapa meter, bahkan diperkirakan hingga lima meter. Beberapa bagian memperlihatkan susunan batu yang tidak acak, serta jejak ukiran pada permukaan batuan.

“Strukturnya tidak seperti piramida di Mesir yang memiliki sudut tegas. Bentuknya lebih halus, tetapi terlihat jelas sebagai bangunan, bukan sepenuhnya bukit alami,” ujar Dhani.

Ia menjelaskan, kemungkinan besar struktur tersebut merupakan bukit alami yang kemudian diperkuat atau dimodifikasi oleh manusia. Di bagian atas, terlihat adanya susunan batu berukuran besar, sementara di sekelilingnya terdapat dinding granit yang membentuk semacam batas area.

Selain itu, di sekitar lokasi juga ditemukan sejumlah objek megalitik seperti kalamba dan patung batu, yang selama ini menjadi ciri khas kawasan Lembah Bada dan Napu. Keberadaan elemen-elemen ini semakin menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas budaya pada masa lampau.

Penggalian awal yang dilakukan di kaki bukit hingga kedalaman sekitar tiga meter menunjukkan adanya lapisan timbunan tanah yang menutupi struktur di bawahnya. Di bawah timbunan tersebut, tim menemukan sebuah menhir berukuran besar.

Temuan ini memunculkan pertanyaan baru: apakah timbunan tanah tersebut terbentuk secara alami akibat proses sedimentasi selama ribuan tahun, atau justru merupakan bagian dari konstruksi yang sengaja dilakukan manusia, baik untuk tujuan arsitektural maupun ritual.

Menurut Dhani, untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan penelitian lanjutan yang lebih mendalam, termasuk penggalian lebih luas, penanggalan material, serta analisis multidisipliner.

“Ini masih tahap awal. Kita belum bisa menyimpulkan secara pasti apakah ini sepenuhnya struktur buatan atau kombinasi antara alam dan rekayasa manusia,” katanya.

Jika terbukti sebagai struktur buatan, temuan ini berpotensi menjadi salah satu situs arkeologi penting di Indonesia. Dengan ukuran yang mencapai sekitar 35 hingga 40 meter, struktur tersebut dinilai cukup besar dan berpotensi mengubah pemahaman tentang perkembangan peradaban kuno di Sulawesi Tengah.

Sejumlah bagian struktur piramida saat ini masih tertutup tanah dan vegetasi. Namun pada beberapa titik yang telah tersingkap, terlihat jelas susunan batu serta jejak ukiran yang mengindikasikan adanya aktivitas manusia di masa lalu.

Para peneliti menduga, di balik lapisan tanah yang masih menutup sebagian besar struktur tersebut, tersimpan informasi penting tentang sejarah dan budaya masyarakat purba di kawasan itu—yang hingga kini masih menunggu untuk diungkap melalui penelitian lebih lanjut.LIA