BRUSSEL, HAWA – Fotografer komersial asal Belgia, Dillan Calluy, baru-baru ini picu perdebatan di media sosial setelah membagikan setting kamera iPhone paling viral yang ia klaim mampu menghancurkan “kebutaan medioker” para pengguna ponsel pintar.
Unggahan yang mencapai lebih dari 5 juta penanyangan tersebut menantang pemilik iPhone untuk berhenti menggunakan perangkat mereka seperti kamera sekali pakai dari tahun 2005.
Dillan menegaskan bahwa sebagian besar orang sebenarnya memiliki kamera bernilai belasan juta rupiah di saku mereka, namun hasil fotonya tetap terlihat biasa saja.
Hal ini terjadi karena pengguna sering kali menyalahkan pencahayaan atau kurangnya bakat, padahal masalah utamanya terletak pada ketidaktahuan mereka terhadap potensi alat yang mereka genggam.
Mengakhiri “Konspirasi” Pengaturan Bawaan Apple

Dillan mengungkapkan sebuah fakta pahit yang ia sebut sebagai masalah utama pada pengaturan standar: Apple tidak mengoptimasi kamera untuk seniman, melainkan untuk massa.
Pengaturan default pada iPhone dirancang agar semua orang, mulai dari anak sekolah hingga lansia, bisa mengambil foto tanpa berpikir. Namun, kemudahan ini justru mengorbankan kualitas profesional demi kenyamanan semata.
Menurut Dillan, setiap keputusan otomatis yang Apple buat dalam perangkat lunaknya bertujuan melayani kepentingan orang awam, bukan estetika tingkat tinggi. Oleh karena itu, langkah pertama dalam setting kamera iPhone paling viral ini adalah dengan merombak total format penyimpanan.
Ia mewajibkan pengguna beralih ke High Efficiency (HEIF) dan mengaktifkan Apple ProRAW. Dengan fitur ProRAW, sensor akan menangkap data murni tanpa campur tangan algoritma yang sering kali merusak tekstur asli gambar.
Menghancurkan Ego dan Membangun Struktur Visual

Selain soal format, Dillan menyinggung sisi psikologis fotografer melalui konsep “The Ego Crusher“. Ia menjelaskan bahwa perbedaan antara foto yang membuat orang berhenti melakukan scrolling dengan foto biasa bukanlah keberuntungan, melainkan sistem.
Ia menyarankan penggunaan Photographic Styles bukan sebagai filter tambahan, melainkan sebagai “struktur tulang” dari sebuah foto.
“Filter itu seperti makeup yang bisa Anda hapus, sementara Styles adalah struktur tulang yang menentukan karakter dasar sebuah gambar,” ungkap Dillan dalam penjelasannya.
Ia merekomendasikan pengguna untuk berani bereksperimen dengan kontras dan suhu warna secara manual daripada menerima begitu saja hasil olahan kecerdasan buatan ponsel. Pengguna dapat mempelajari lebih dalam mengenai spesifikasi perangkat keras yang mendukung fitur ini melalui situs resmi Apple.
Konsistensi Melalui Sistem, Bukan Bakat

Bagian terakhir dari setting kamera iPhone paling viral ini berkaitan dengan efisiensi kerja melalui menu Preserve Settings. Dillan berpendapat bahwa kelelahan dalam mengambil keputusan kreatif sering terjadi karena pengguna harus mengatur ulang kamera setiap kali membuka aplikasi. Dengan mengunci pengaturan eksposur dan mode kamera, pengguna dapat fokus sepenuhnya pada komposisi dan momen.
Menariknya, meskipun tips ini mendapat apresiasi luas, thread milik Dillan sempat mendapatkan kritik karena gaya bahasanya yang dianggap menyerupai “AI Slop” atau teks hasil kecerdasan buatan. Sejumlah netizen di X menuduhnya kurang autentik dalam bertutur.

Namun, Dillan menanggapi santai kritik tersebut dan menegaskan bahwa esensi dari pesannya adalah tentang penguasaan alat, bukan sekadar retika tulisan. Ia membuktikan bahwa dengan sistem yang tepat, siapa pun bisa menghasilkan karya berkualitas komersial hanya dengan ponsel pintar.LIA