KUALA LUMPUR, HAWA – Gelombang global regulasi untuk pembatasan media sosial anak semakin meluas setelah Malaysia dan Turki resmi mengumumkan rencana pengetatan aturan akses digital bagi anak di bawah umur pada 04/03. Kebijakan ini bertujuan melindungi generasi muda dari risiko predator seksual, perundungan siber, dan algoritma yang memicu kecanduan berat.
Pemerintah Malaysia menetapkan batas usia minimal 16 tahun bagi remaja untuk dapat membuka akun mandiri mulai Juli 2026. Melalui mekanisme regulatory sandbox, otoritas setempat akan mewajibkan platform melakukan verifikasi identitas yang ketat terhadap pengguna baru. Langkah ini sejalan dengan aturan lisensi bagi platform besar yang memiliki lebih dari 8 juta pengguna.
“Isu utamanya adalah siapa yang mengendalikan akun. Kami tidak ingin anak-anak mengendalikan akun mereka sendiri,” kata Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi Malaysia.
Sementara itu di Ankara, Turki mengusulkan rancangan undang-undang yang melarang akses bagi anak di bawah 15 tahun. Aturan ini mewajibkan penyedia layanan menghapus konten berbahaya dalam kurun waktu satu jam setelah pelaporan. Jika melanggar pembatasan media sosial anak tersebut, perusahaan teknologi terancam denda hingga 3 persen dari pendapatan global.
Inggris juga sedang menjalankan konsultasi publik hingga 26/05 untuk mempertimbangkan larangan total penggunaan gawai bagi anak di bawah 16 tahun. Pemerintah setempat melakukan uji coba terhadap 150 remaja guna memantau dampak paparan layar terhadap pola tidur dan kesehatan mental. Fokus utama kebijakan ini adalah menonaktifkan fitur autoplay dan pengguliran tanpa henti bagi pengguna muda.
Di Amerika Serikat, negara bagian Michigan melalui paket legislasi Michigan Senate bernama Kids Over Clicks berupaya melarang penggunaan feed algoritma personalisasi tanpa izin orang tua. Senator Darrin Camilleri menegaskan bahwa perusahaan teknologi besar telah meraup keuntungan finansial dari ketergantungan anak pada platform digital selama bertahun-tahun.
“Sudah terlalu lama big tech meraup untung dari anak-anak kami,” kata Darrin Camilleri, Senator Negara Bagian Michigan.
Pengetatan pembatasan media sosial anak ini mendapat reaksi dari kelompok industri seperti NetChoice yang menilai aturan tersebut berisiko melanggar hak kebebasan berbicara. Namun, tekanan hukum terhadap raksasa teknologi terus meningkat menyusul berbagai gugatan terkait krisis kesehatan mental remaja di berbagai belahan dunia.