Suasana rumah mendadak hening, tapi bukan hening yang damai. Dada Bunda sesak, tenggorokan kering, dan si kecil baru saja lari ke kamar sambil menangis setelah terkena “ledakan” suara Bunda. Di pojok ruangan, mainan masih berantakan.
Masalahnya tidak selesai, justru bertambah dengan rasa bersalah yang menghimpit. Di titik ini, kita sering bertanya-tanya: Kenapa ya, semakin kita berteriak, anak justru semakin tidak mendengar?
Selamat datang di HAWA, tempat kita berbagi rasa sebagai perempuan. Di sini, kita tahu betul bahwa menjadi Ibu adalah perjalanan emosional yang luar biasa melelahkan. Seringkali, kita merasa terjebak dalam lingkaran setan; ingin mendisiplinkan tapi berakhir dengan penyesalan.
Tapi, tahukah Bunda kalau ada rahasia kecil yang bisa mengubah segalanya? Rahasianya adalah disiplin tanpa bentak.
Banyak dari kita yang tumbuh dengan keyakinan bahwa suara keras adalah simbol otoritas. Kita mengira kalau tidak membentak, anak tidak akan takut atau patuh. Namun, ilmu psikologi berkata sebaliknya. Dr. Laura Markham, seorang pakar pengasuhan ternama, menjelaskan bahwa saat kita membentak, otak anak masuk ke mode fight or flight.
Bukannya belajar tentang benar dan salah, otak mereka justru “padam” karena ketakutan. Mereka tidak belajar disiplin, mereka hanya belajar cara menghindari amarah Bunda.
Diam adalah Kekuatan
Inilah mengapa “diam” justru menjadi senjata yang jauh lebih kuat. Saat Bunda mampu menurunkan nada bicara, Bunda sebenarnya sedang mengambil kendali penuh atas situasi. Anak akan merasa aman, dan dalam rasa aman itulah, mereka bisa mulai mendengarkan pesan yang ingin Bunda sampaikan.
Tapi, bagaimana caranya tetap tenang saat kesabaran sudah di ujung tanduk?
Langkah pertamanya bukan tentang mengubah anak, melainkan menjeda diri sendiri. Sebelum mulut terbuka untuk mengeluarkan suara tinggi, coba tarik napas dalam tiga kali. Teknik sederhana ini memberi waktu bagi otak logika Bunda untuk mengambil alih kendali dari otak emosional. Kedisiplinan yang efektif lahir dari kepala yang dingin, bukan dari urat leher yang tegang.
Setelah Bunda tenang, dekati si kecil. Turunkan tubuh Bunda hingga sejajar dengan mata mereka. Sentuhan lembut di bahu atau genggaman tangan yang hangat akan meruntuhkan tembok pertahanan mereka.
Dalam posisi ini, suarakan aturan dengan tegas namun tenang. Misalnya, daripada berteriak “Berhentikan mainnya sekarang!”, cobalah dengan kalimat, “Bunda lihat kamu senang sekali main, tapi sekarang waktunya mandi ya. Mau jalan sendiri atau Bunda gandeng?”
Memberikan pilihan kecil seperti ini membuat anak merasa memiliki kontrol, sehingga mereka lebih kooperatif dalam menerapkan disiplin tanpa bentak. Transisi dari teriakan ke ketenangan memang tidak terjadi dalam semalam. Akan ada hari-hari di mana Bunda gagal lagi. Dan itu tidak apa-apa. Menjadi Ibu yang baik bukan berarti menjadi Ibu yang sempurna tanpa cela.
Ingatlah, Bunda, bahwa rumah seharusnya menjadi pelabuhan paling aman bagi si kecil, bukan medan perang yang penuh kebisingan. Dengan memilih untuk tetap tenang, Bunda tidak sedang menunjukkan kelemahan. Sebaliknya, Bunda sedang menunjukkan kekuatan cinta yang luar biasa.
Peluk diri Bunda hari ini. Bunda sudah berjuang hebat, dan besok adalah kesempatan baru untuk memulai dengan lebih tenang, lebih dalam, dan lebih penuh kasih.