SAN FRANCISCO, HAWA – Sebuah gugatan hukum mengejutkan di Amerika Serikat memicu tanya besar di benak publik mengenai apakah WhatsApp aman dari intaian pihak internal.
Kelompok pengguna dari Australia hingga Afrika Selatan resmi melayangkan gugatan ke pengadilan federal San Francisco pada 23 Januari 2026.
Mereka membawa kesaksian dari “whistleblower pemberani” yang menyebut karyawan Meta memiliki akses khusus untuk melihat pesan pribadi pengguna secara langsung. Kabar ini tentu saja mengguncang kepercayaan miliaran orang yang mengandalkan enkripsi end-to-end setiap harinya.
Celah Rahasia Bernama ‘Task’
Narasi dalam dokumen gugatan setebal 51 halaman itu memaparkan prosedur yang mencengangkan. Whistleblower mengungkapkan bahwa staf Meta cukup mengirimkan sebuah “task” melalui sistem internal untuk menembus percakapan tanpa perlu proses dekripsi yang rumit.
Menariknya, klaim ini menyebutkan bahwa sistem tersebut mampu menarik data pesan secara real-time, bahkan termasuk pesan-pesan yang sudah dihapus oleh pengguna. Meski begitu, para penggugat hingga kini belum menyertakan bukti kode atau log teknis spesifik untuk memperkuat tuduhan sensasional tersebut di meja hijau.
Reaksi Meta
Meta segera bereaksi dengan menyebut seluruh tuduhan tersebut sebagai “bohong absurd dan fiktif.” Perusahaan menegaskan bahwa mereka tetap menggunakan protokol Signal sejak 2016, sebuah standar emas yang menjamin hanya pemilik akun yang memegang kunci untuk membaca pesan.
Tak hanya membantah, Meta juga berencana melayangkan tuntutan balik kepada pihak penggugat karena menganggap klaim ini merusak reputasi perusahaan tanpa landasan fakta. Meta bersikukuh bahwa sistem enkripsi mereka telah teruji tangguh selama satu dekade tanpa satu pun pelanggaran sistemik yang terbukti.
Walaupun gugatan ini masih dalam tahap awal dan minim bukti teknis, perdebatan mengenai privasi ini menjadi pengingat penting. Keamanan data adalah proses yang terus berkembang dan memerlukan pengawasan publik secara berkala.LIA