PALU, HAWA – Perkumpulan Jurnalis Wanita Indonesia (JUWITA) Sulawesi Tengah mendorong perempuan desa dan penyandang disabilitas menjadi penyampai informasi melalui pelatihan jurnalisme warga berperspektif gender di Kabupaten Sigi.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Training of Trainers (ToT) Balai Belajar Kampung (BBK) yang digagas Yayasan Sikola Mombine bersama mitra, dengan melibatkan peserta dari sejumlah desa yang dilaksanakan 1-2 April 2026 di salah satu hotel di Kota Palu.

Ketua JUWITA Sulteng, Kartini Nainggolan, yang menjadi fasilitator dalam sesi tersebut, menekankan pentingnya menghadirkan suara kelompok yang selama ini jarang terwakili dalam pemberitaan.

“Selama ini berita lebih banyak bicara tentang tokoh besar atau laki-laki. Padahal perempuan dan penyandang disabilitas di desa juga punya cerita penting,” ujar Kartini.

Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada konsep jurnalisme warga, yakni praktik menyampaikan informasi oleh masyarakat biasa menggunakan telepon genggam dan media sosial secara sederhana, namun tetap beretika.

Materi yang diberikan tidak hanya soal teknik menulis berita, tetapi juga bagaimana melihat peristiwa dari perspektif gender dan inklusi. Peserta didorong memahami bahwa setiap peristiwa dapat berdampak berbeda bagi perempuan, laki-laki, maupun penyandang disabilitas.

Selain itu, aspek etika juga menjadi penekanan, mulai dari pentingnya meminta izin saat wawancara, menghindari penggunaan istilah yang merendahkan, hingga memastikan informasi yang disampaikan tidak mengandung hoaks.

Dalam sesi praktik, peserta dilatih menyusun berita sederhana dengan pendekatan 5W+1H, mengambil foto yang bercerita, serta membuat video singkat tentang persoalan di desa, seperti akses layanan publik, keselamatan perempuan, hingga tantangan yang dihadapi kelompok disabilitas.

Kartini menyebut, jurnalisme warga dapat menjadi alat penting untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat desa.

“Lewat satu tulisan atau video sederhana, suara dari desa bisa sampai ke pengambil kebijakan. Ini yang ingin kita dorong,” katanya.

Program ini diharapkan mampu menjadikan Balai Belajar Kampung sebagai pusat informasi desa yang jujur, inklusif, dan berpihak pada keadilan sosial.

Sementara itu, Project Officer Yayasan Sikola Mombine, Novi, menyebut pelatihan ini penting dalam konteks kondisi sosial di Sigi yang masih menghadapi tantangan kemiskinan dan ketimpangan akses, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan.

Dengan penguatan kapasitas ini, peserta diharapkan tidak hanya menjadi fasilitator pembelajaran di desa, tetapi juga agen perubahan yang mampu menyuarakan realitas di komunitasnya secara lebih luas.***