JAKARTA, HAWA. Harga batubara Newcastle berjangka melonjak hingga level tertinggi sejak akhir 2024 menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz. Kenaikan drastis sebesar 9,3 persen ini terjadi setelah militer Iran menutup jalur pelayaran vital dan meluncurkan serangan ke fasilitas gas Qatar pada awal Maret 2026.

Krisis energi global semakin parah setelah militer Iran secara efektif menghentikan lalu lintas tanker di Selat Hormuz sejak 02/03. Penutupan ini mengganggu distribusi 31 persen perdagangan minyak mentah dunia dan memicu percepatan peralihan konsumsi energi dari gas ke harga batubara di kawasan Asia.

Data pasar pada 09/03 menunjukkan harga batubara Newcastle menyentuh angka 150 dolar AS per ton atau setara 2,4 juta rupiah. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran kelangkaan pasokan gas global setelah dua fasilitas utama milik QatarEnergy di Ras Laffan dan Mesaieed terpaksa menghentikan operasinya akibat serangan drone.

Dampak penutupan jalur laut ini juga merambat ke pasar minyak mentah dunia yang mencatat kenaikan signifikan akibat krisis energi. Harga minyak Brent terpantau menembus level 111,04 dolar AS per barel, sementara indeks gas di Eropa dan Asia mengalami kenaikan harga batubara serta komoditas lainnya secara serempak.

“Selat Hormuz telah ditutup. Kami akan menyerang dan membakar kapal apa pun yang mencoba menyeberang,” kata Ebrahim Jabari, Penasihat Senior Panglima Tertinggi IRGC.

“Situasi ini adalah krisis energi paling signifikan sejak embargo minyak 1970-an,” kata Helima Croft, Managing Director dan Global Head of Commodity Strategy RBC Capital Markets.