Pernahkah Bunda sedang berjalan santai di mal, lalu mendadak langkah kaki terhenti hanya karena melihat kilauan dari balik kaca toko perhiasan? Ada rasa hangat yang menjalar, sedikit debar di dada, dan keinginan kuat untuk sekadar mencoba, atau kalau bisa ya.., membawanya pulang. Tenang, Bunda tidak sendirian dan ini bukan sekadar tanda Bunda ingin pamer atau gengsi.

Di HAWA, kami percaya bahwa setiap tarikan napas perempuan punya alasan di baliknya. Masalahnya, banyak orang (terutama para suami) sering salah kaprah. Mereka menganggap koleksi emas kita hanyalah tumpukan aksesoris untuk ajang pamer saat arisan. Padahal, ada alasan yang jauh lebih mendalam, bahkan bersifat biologis, mengapa kita begitu terobsesi dengan benda berkilau.

Secara evolusi, manusia terutama perempuan, memiliki keterikatan alami dengan benda yang berkilau atau shimmering. Sebuah penelitian dalam Journal of Consumer Psychology menyebutkan bahwa ketertarikan kita pada kilauan sebenarnya berasal dari insting purba untuk mencari air yang jernih dan bersih.

Kilauan emas di jemari Bunda sebenarnya adalah sinyal purba tentang keberlangsungan hidup dan kesejahteraan. Jadi, kalau sekarang Bunda merasa “butuh” beli emas saat harga emas melejit, itu adalah insting bertahan hidup yang sedang bicara.

Tapi tunggu dulu, ini bukan cuma soal insting purba.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, emas adalah satu-satunya “bahasa cinta” yang bisa dikonversi menjadi dana darurat. Saat harga emas melejit, perhiasan yang Bunda pakai bukan lagi sekadar pemanis penampilan, melainkan pelindung nilai kekayaan keluarga. Ia adalah safe haven. Ketika nilai mata uang kertas mulai terasa “letoy” karena inflasi, emas tetap berdiri tegak dengan kilauannya yang tak pernah pudar.

Masalahnya, banyak dari kita yang merasa ragu untuk membeli saat harga sedang di puncak. “Nanti saja tunggu turun,” begitu pikir kita. Padahal, dalam sejarah peremasan dunia, emas adalah tentang waktu kepemilikan, bukan sekadar menebak harga terendah. Emas adalah perpaduan antara keindahan untuk masa sekarang dan keamanan untuk masa depan. Ia adalah warisan emosional yang bisa Bunda turunkan ke anak perempuan Bunda kelak, lengkap dengan cerita di baliknya.

Jadi, jangan merasa bersalah jika besok Bunda memutuskan untuk menambah koleksi logam mulia atau cincin baru. Itu bukan impulsif, itu adalah cara cerdas perempuan menjaga identitas dan masa depannya. Karena pada akhirnya, perhiasan emas adalah satu-satunya barang mewah yang jika Bunda beli, Bunda sebenarnya tidak sedang kehilangan uang, melainkan sedang “memindahkan” uang ke bentuk yang lebih abadi.

Percayalah pada insting Bunda. Kilauan itu bukan godaan, tapi sebuah ajakan untuk menjadi perempuan yang mandiri secara finansial dengan cara yang paling elegan.