PALU, HAWA – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Wagub Sulteng), dr. Reny A. Lamadjido, mewajibkan para calon dokter dan spesialis untuk menguasai teknik mikroskop secara mendalam guna menghindari kesalahan diagnosis pasien.

Pernyataan tegas tersebut muncul saat beliau membuka Workshop Komprehensif Optimalisasi Teknik Mikroskop di Aula Kedokteran Universitas Tadulako, Sabtu (31/1). Beliau menilai, kemahiran mengoperasikan alat laboratorium merupakan fondasi utama bagi seorang klinisi, terutama spesialis patologi klinik.

Wagub Sulteng menekankan bahwa keahlian teknis seperti penggunaan lensa imersi dan pembesaran 10 hingga 100 kali bukan sekadar formalitas. Namun, hal tersebut merupakan standar wajib agar dokter bisa menegakkan diagnosis secara akurat berdasarkan kondisi riil pasien.

“Diagnosis tidak mungkin tegak tanpa hasil laboratorium yang valid. Oleh sebab itu, tenaga medis harus memperhatikan detail teknis mikroskop dan perawatan lensanya secara rutin,” ujar Reny Lamadjido di hadapan peserta workshop.

Selain masalah teknis, Wagub Sulteng juga turut memaparkan kondisi tenaga medis spesialis di wilayahnya yang masih sangat minim. Saat ini, Sulawesi Tengah hanya memiliki 16 dokter spesialis patologi klinik yang tersebar di 12 kabupaten dan satu kota.

Angka tersebut jelas belum ideal untuk menjangkau seluruh fasilitas kesehatan di tingkat daerah. Dampaknya, masih ada rumah sakit yang hingga kini belum memiliki dokter spesialis patologi tetap untuk mengawasi operasional laboratorium secara harian.

Merespons kendala tersebut, Wagub Sulteng mengajak para dokter umum dan tenaga analis untuk segera mengambil pendidikan spesialis. Beliau ingin setiap kabupaten setidaknya memiliki dua atau tiga orang spesialis agar pelayanan kesehatan lebih merata dan berkualitas.

“Kepercayaan tenaga klinis sangat bergantung pada kualitas laboratorium. Jika mutu pemeriksaan meragukan, maka proses pengobatan pasien pun akan terganggu,” jelas mantan Direktur RSUD Undata tersebut.

Kemudian, beliau juga mengingatkan bahwa akurasi laboratorium berawal dari proses pra-analitik yang benar. Kesalahan pada cara pengambilan sampel atau penanganan awal sering kali menjadi penyebab utama hasil pemeriksaan yang meleset.*/LIA