WASHINGTON D.C., HAWA – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) akhirnya membuka tabir tebal yang selama ini menyelimuti detail kasus Jeffrey Epstein. Pada 30 Januari 2026, otoritas hukum AS merilis jutaan halaman dokumen baru yang menyoroti keterlibatan sejumlah tokoh elit global dalam lingkaran sosial terpidana kasus perdagangan seks tersebut.
Langkah ini merupakan pemenuhan mandat Epstein Files Transparency Act yang disahkan oleh Kongres AS pada akhir 2025.
Perilisan ini mencakup skala data yang luar biasa besar. DOJ melepas sekitar 3 juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan 2.000 video ke publik. Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menegaskan bahwa ratusan jaksa telah bekerja keras meninjau materi ini demi memastikan transparansi bagi publik Amerika sekaligus mematuhi hukum yang berlaku.
Meski demikian, DOJ tetap melakukan redaksi atau penyuntingan ketat terhadap informasi sensitif, terutama yang berkaitan dengan identitas korban pelecehan seksual dan anak di bawah umur.
Sorotan utama tertuju pada munculnya nama-nama besar dunia dalam berkas tersebut. Dokumen mencatat nama Presiden Donald Trump muncul ratusan hingga ribuan kali, termasuk dalam catatan FBI mengenai dugaan interaksi di acara sosial yang melibatkan Ghislaine Maxwell.
Salah satu dokumen bahkan memuat tuduhan serius dari seorang saksi bernama Jane Doe terkait insiden masa lalu, meskipun catatan hukum menunjukkan tuduhan tersebut telah ditarik sebelum pemilihan umum tahun 2016.
Selain Trump, figur teknologi dunia juga tidak luput dari sorotan. Dokumen mengungkap adanya korespondensi email antara Epstein dan Elon Musk yang membahas rencana kunjungan ke pulau pribadi Epstein, serta catatan transfer dana ke pihak ketiga.
Foto-foto yang baru dirilis juga memperlihatkan kedekatan Epstein dengan tokoh-tokoh seperti Bill Gates, Bill Clinton, Woody Allen, hingga Pangeran Andrew di berbagai acara sosial. Salah satu email bahkan menyinggung klaim Epstein yang merasa membantu “pertemuan gelap” Bill Gates, sebuah tuduhan yang langsung memicu respons keras.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Bill Gates segera mengeluarkan bantahan tegas. Pihaknya menyatakan bahwa klaim tersebut “benar-benar tidak masuk akal dan sepenuhnya salah,” serta menyebut dokumen itu hanya menunjukkan frustrasi Epstein karena gagal menjalin hubungan bisnis berkelanjutan dengan pendiri Microsoft tersebut.
Sementara itu, Todd Blanche menekankan bahwa meskipun dokumen ini mengungkap banyak interaksi sosial, tidak ada bukti baru yang secara fundamental mengubah narasi hukum utama kasus Epstein yang telah ditutup pasca kematiannya pada 2019.
Bagian paling sensitif dari perilisan ini terletak pada ribuan video yang disita FBI dari properti Epstein. Rekaman tersebut mencakup visual dari kamera pengawas sel penjara saat kematian Epstein hingga dokumentasi interaksi di pulau pribadinya.
Demi melindungi korban, DOJ menyamarkan wajah semua perempuan dalam video tersebut, kecuali Ghislaine Maxwell. Kelompok advokasi korban sempat meminta penutupan sementara akses situs DOJ karena kekhawatiran akan dampak traumatis dari konten grafis yang tersedia, mengingat beberapa video mengandung detail eksplisit mengenai pelecehan.*/LIA