Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang terjadi di Jalan Yos Sudarso, Palu, pada Rabu siang kemarin (11/3). Kehilangan nyawa dalam sebuah kecelakaan adalah tragedi yang memilukan, terlepas dari siapa yang berada di balik kemudi.

Di balik angka dan kronologi polisi, ada seorang wanita, seorang ibu, atau saudari yang hari itu hanya ingin pulang ke rumah atau menyelesaikan urusannya, namun takdir berkata lain.

Baru saja jenazah dievakuasi, cerita-cerita sudah riuh. Bukan doa yang pertama kali membanjiri perbincangan, melainkan penghakiman yang seragam. Begitu identitas korban terungkap sebagai seorang wanita yang mengendarai kendaraan sendiri, narasi lama langsung diputar kembali: “Namanya juga perempuan,” atau “Perempuan memang tidak lihai di jalan.” Seolah-olah aspal punya dendam pribadi pada satu gender saja.

Fenomena ini adalah luka lama yang terus menganga bagi kita di HAWA. Kita sering kali dipaksa membawa beban ganda setiap kali memegang setir. Kita tidak hanya waspada pada kendaraan lain, tapi juga pada stigma pengemudi perempuan yang membuat kita merasa selalu diawasi oleh ribuan mata yang menunggu kita melakukan kesalahan kecil. Rasa cemas ini, sadar atau tidak, justru menjadi “penumpang gelap” yang merenggut ketenangan kita di jalan raya.

Bayangkan Anda sedang berada di persimpangan jalan yang padat. Anda ragu sejenak, dan klakson dari belakang terdengar begitu kasar. Jika seorang pria yang ragu, ia dianggap sedang berhati-hati. Namun jika itu Anda, label “lamban” langsung melekat.

Tekanan psikologis ini bukan sekadar perasaan. Dalam psikologi, ada istilah Stereotype Threat atau Ancaman Stereotip.

Menurut teori yang dikembangkan oleh psikolog Claude Steele, ketika seseorang berada dalam situasi yang memicu stigma negatif tentang kelompoknya (seperti stigma ‘wanita tak mahir menyetir’), beban mental untuk membuktikan bahwa stigma itu salah justru memecah konsentrasi dan meningkatkan risiko kesalahan

Belum lagi jika kita bicara soal desain dunia yang maskulin. Pernahkah Sahabat Hawa merasa posisi duduk di mobil terasa kurang pas, atau pedal rem yang seolah didesain untuk kaki yang lebih panjang? Faktanya, sebagian besar standar keamanan dan ergonomi kendaraan selama puluhan tahun menggunakan data antropometri pria. Kita dipaksa beradaptasi dengan alat yang tidak dirancang untuk tubuh kita, lalu dunia menyalahkan “kelemahan fisik” kita saat terjadi keadaan darurat.

Jalan raya kita juga sering kali menormalisasi perilaku agresif sebagai standar kepiawaian. Menyalip dengan tipis atau memacu kecepatan tinggi dianggap sebagai “lihai”. Saat perempuan memilih untuk patuh pada aturan dan menjaga jarak aman, kita justru dianggap pengganggu arus. Ini adalah ironi yang menyakitkan: kita disalahkan saat melanggar, namun diremehkan saat mencoba tertib.

Tragedi di Jalan Yos Sudarso tempo hari seharusnya menjadi momen bagi kita semua untuk berhenti sejenak. Berhenti mencari validasi atas kebencian atau prasangka kita terhadap satu gender. Kecelakaan adalah kombinasi pahit dari infrastruktur yang mungkin kurang memadai, kondisi kendaraan, hingga faktor kelelahan manusia yang bisa menimpa siapa saja tanpa melihat jenis kelamin.

Menghakimi korban yang sudah tiada hanya akan menambah beban bagi keluarga yang ditinggalkan. Ini bukan tentang siapa yang lebih jago memutar setir, tapi tentang bagaimana kita membangun empati di atas aspal yang panas. Kita semua berhak merasa aman saat berkendara, tanpa perlu merasa diadili oleh mata-mata di spion yang hanya ingin melihat kita gagal.

Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pengingat untuk saling menjaga. Keselamatan bukan lahir dari siapa yang paling berani mengebut, melainkan dari ketenangan pikiran dan rasa hormat kepada sesama pengguna jalan. Untuk setiap Sahabat Hawa yang hari ini harus menembus kemacetan, tarik napas dalam-dalam. Anda hebat, Anda mampu, dan Anda berhak berada di sana.

Bagaimana pendapat Anda, apakah Anda juga sering merasa tertekan oleh pandangan orang lain saat sedang menyetir? Mari kita berbagi cerita, agar tidak ada lagi perempuan yang merasa sendirian dalam menghadapi riuhnya jalan raya.