TEHERAN, HAWA – Sebanyak 89 kapal termasuk tanker minyak dilaporkan tetap berhasil melintasi Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 meskipun ketegangan perang terus meningkat. Iran tercatat masih mengekspor lebih dari 16 juta barel minyak mentah ke pasar global melalui jalur krusial yang menyuplai seperlima kebutuhan energi dunia ini.
Lalu lintas di Selat Hormuz mengalami penurunan dari rata-rata 100 hingga 135 kapal per hari sebelum perang menjadi sekitar 89 kapal dalam periode 01/03 hingga 15/03. Seperlima dari kapal yang melintas diketahui memiliki keterkaitan dengan Iran, sementara sisanya merupakan kapal dari negara seperti China, India, dan Pakistan.
Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 40 persen hingga menembus angka di atas USD 100 atau sekitar Rp1.600.000 per barel akibat ketidakpastian keamanan di wilayah tersebut. Meski Amerika Serikat sempat menekan sekutu untuk mengirim kapal perang, kebijakan global saat ini cenderung membiarkan tanker melintas demi menjaga stabilitas harga energi.
Sejumlah kapal dari India dan Pakistan seperti MT Karachi milik Pakistan National Shipping Corp dilaporkan berhasil melintas dengan selamat setelah melalui proses diplomasi. Kapal-kapal tersebut seringkali menggunakan metode transit gelap atau menyatakan identitas awak asal China untuk mengurangi risiko serangan di perairan Selat Hormuz yang sangat sensitif.
“Selat ini bukan sekadar tertutup, lebih baik dipahami sebagai tertutup secara selektif terhadap lalu lintas tertentu, sementara masih berfungsi untuk ekspor Iran,” kata Kun Cao, Client Director Reddal.
“Ada ketahanan berkelanjutan dalam volume ekspor minyak Iran,” kata Ana Subasic, Trade Risk Analyst Kpler.
“Kapal Shivalik dan Nanda Devi bisa lewat setelah pembicaraan dengan Iran,” kata Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Luar Negeri India.
Hingga saat ini, sekitar 20 kapal dilaporkan telah menjadi sasaran serangan di sekitar wilayah Selat Hormuz sejak konflik pecah. Meskipun situs militer di Pulau Kharg sempat menjadi target pengeboman, infrastruktur utama minyak Iran dilaporkan tetap utuh dan terus beroperasi untuk memenuhi permintaan pasar Asia.