JAKARTA, HAWA – Apple secara resmi memperingatkan ancaman peretasan iPhone massal melalui kit eksploitasi DarkSword dan Coruna yang menyasar ratusan juta pengguna global. Serangan ini memungkinkan pelaku mendapatkan akses remote mendalam untuk mencuri data sensitif seperti pesan teks, lokasi, hingga informasi kesehatan pada perangkat yang belum diperbarui.

Penelitian dari Google Threat Intelligence Group mengungkap bahwa kampanye ini telah aktif sejak November 2025 dengan memanfaatkan kerentanan pada iOS versi lama. Para pelaku menggunakan metode watering hole attack yang menyusupkan kode berbahaya ke situs web tertentu untuk menginfeksi perangkat secara otomatis saat dikunjungi.

Risiko peretasan iPhone massal ini mengancam sekitar 220 hingga 270 juta unit ponsel yang masih menjalankan iOS 18.4 hingga 18.7. Kit Coruna sendiri dilaporkan telah menyerang lebih dari 42.000 perangkat dengan target utama pengguna di Ukraina, China, Arab Saudi, Turki, hingga Malaysia.

“Mempertahankan perangkat lunak tetap terbaru tetap menjadi hal terpenting yang dapat dilakukan pengguna untuk menjaga keamanan tinggi pada perangkat Apple mereka,” kata Sarah O’Rourke, Juru Bicara Apple.

Pihak keamanan siber menyarankan pengguna untuk segera melakukan transisi ke iOS 26 atau mengaktifkan fitur Lockdown Mode guna menutup celah keamanan. Informasi mengenai langkah proteksi tambahan dapat diakses melalui laman dukungan resmi Apple guna menghindari pencurian data pribadi dan aset kripto.

“Hambatan masuk untuk serangan mobile yang luas dan merusak telah diturunkan secara tegas. Masalah ini jelas hanya akan bertambah besar,” kata John Scott-Railton, Senior Researcher Citizen Lab.

Kasus peretasan iPhone massal ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan di internet. Hingga 18/03/2026, Apple terus merilis pembaruan keamanan darurat bagi perangkat model lama agar tidak menjadi korban eksploitasi sandbox escape dan remote code execution oleh kelompok kriminal siber.