JAKARTA, HAWA. Gelombang penipuan WhatsApp Lebaran 2026 dilaporkan meningkat tajam melalui penyebaran file APK berbahaya dan tautan palsu selama bulan Ramadan. Pihak otoritas mencatat ribuan laporan penipuan yang menyasar pengguna ponsel di seluruh Indonesia menjelang hari raya Idulfitri.

Berdasarkan data resmi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerima 13.130 laporan penipuan yang melibatkan puluhan ribu rekening hanya dalam sepuluh hari pertama Ramadan 2026. Angka ini menunjukkan lonjakan aktivitas kejahatan siber yang signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Modus yang digunakan pelaku sangat beragam, mulai dari tawaran donasi amal palsu hingga pesan fiktif terkait pencairan tunjangan hari raya. Fenomena penipuan WhatsApp Lebaran 2026 ini diperparah dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk menciptakan pesan yang sangat meyakinkan bagi calon korban.

“Metode yang digunakan kini semakin canggih karena sebagian pelaku memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat pesan phishing yang lebih meyakinkan dan tertarget,” kata Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia.

Selain tautan palsu, penyebaran file format APK yang menyamar sebagai aplikasi kurir pengiriman paket menjadi ancaman serius bagi keamanan data. File tersebut dirancang khusus untuk menginstal malware yang mampu mencuri data perbankan serta informasi pribadi pengguna secara ilegal.

Hasil riset Global Anti-Scam Alliance mengungkap bahwa 89 persen responden di Indonesia pernah dihubungi oleh pelaku penipuan melalui platform pesan instan. Maraknya penipuan WhatsApp Lebaran 2026 ini berkontribusi pada total kerugian masyarakat yang ditaksir mencapai Rp49 triliun dalam setahun terakhir.

“Jangan pernah sembarangan mengklik tautan atau mengunduh file dari nomor yang tidak dikenal,” kata Supangat, Pakar Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Upaya penipuan WhatsApp Lebaran 2026 juga mencakup penggunaan akun media sosial palsu yang menjanjikan hadiah mewah seperti emas hingga paket umrah gratis. Masyarakat diingatkan bahwa lembaga keuangan resmi tidak akan pernah meminta kode OTP atau PIN melalui pesan singkat pribadi kepada nasabah.