WASHINGTON, HAWA – Konflik AS dan Iran resmi pecah dalam skala besar sejak 28/02. Serangan udara gabungan militer Amerika Serikat dan Israel menggempur berbagai target strategis di wilayah Iran. Operasi militer berskala besar ini dilaporkan bertujuan untuk mengubah rezim pemerintahan di Teheran.

Eskalasi dari konflik AS dan Iran ini mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 01/03. Sebagai langkah balasan, militer Iran meluncurkan rentetan rudal dan pesawat nirawak ke arah Israel serta sejumlah pangkalan Amerika Serikat. Rentetan serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer penting di kawasan Timur Tengah.

Militer Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan lebih dari 3.000 target strategis. Menurut laporan resmi CENTCOM, mereka berhasil melumpuhkan sebagian besar kemampuan rudal dan armada angkatan laut Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memberikan pernyataan keras terkait situasi perang ini.

“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN DIRI TANPA SYARAT!” kata Donald Trump, Presiden AS.

Pemerintah Iran menolak keras tuntutan penyerahan tanpa syarat tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan militer dari pihak manapun. Otoritas Teheran berjanji akan terus melawan segala bentuk dominasi kekuatan asing.

“Kekuatan dunia berbaris dengan kepengecutan untuk memaksa kita menundukkan kepala. Sama seperti Anda tidak sujud menghadapi kesulitan, kami juga tidak akan sujud menghadapi masalah ini,” kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.

Dampak kemanusiaan akibat memanasnya konflik AS dan Iran ini terus bertambah seiring berjalannya operasi militer. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani melaporkan bahwa 1.332 warga sipil telah tewas akibat serangan tersebut hingga 06/03. Sementara itu, otoritas militer Amerika Serikat mencatat kehilangan enam prajuritnya dalam rangkaian operasi yang sama.

“Bagi kami tidak ada negosiasi dengan negara yang melancarkan permusuhan dengan kami, yaitu Amerika Serikat,” kata Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Iran untuk Indonesia.

Hingga minggu kedua bulan Maret, konflik AS dan Iran belum menunjukkan tanda akan mereda sama sekali. Segala bentuk upaya mediasi internasional masih menemui jalan buntu karena kedua belah pihak tetap bersikeras pada operasi militer mereka.