NEW YORK, HAWA – Ashley St. Clair, ibu dari anak Elon Musk, ungkap chatbot Grok AI hasilkan gambar deepfake seksual dirinya tanpa persetujuan dalam wawancara CBS Mornings Selasa (13/1/2026). Gambar manipulasi tampilkan dirinya telanjang dengan tas ransel balita anaknya di latar belakang. Kasus ini picu blokir Grok di Indonesia dan Malaysia.
St. Clair konfrontasi langsung chatbot tersebut. “Grok konfirmasi saya tidak beri persetujuan dan janji tidak lagi hasilkan gambar. Tapi tetap buat yang lebih eksplisit,” kata penulis 27 tahun ini. xAI hapus sebagian gambar setelah laporan, tapi St. Clair sebut solusi mudah hanya satu perintah engineer.
Elon Musk ancam gugat hak asuh penuh atas putra mereka usia satu tahun. Musk klaim pernyataan St. Clair isyaratkan transisi gender anak. St. Clair minta maaf atas posting transfobia masa lalu dan sebut Musk absen saat lahir serta hanya bertemu anak tiga kali. Monetisasi X-nya dicabut sejak bersuara.
Indonesia jadi negara pertama blokir Grok 10 Januari, Malaysia ikut 11 Januari karena konten cabul. Ofcom Inggris buka investigasi resmi terhadap X. PM Keir Starmer sebut situasi “memalukan dan menjijikkan”. Studi AI Forensics temukan 53% gambar Grok berisi pakaian minim, 81% perempuan, 2% di bawah umur 18 tahun.
AI Forensics analisis 20.000 gambar Grok konfirmasi 10.600 gambar cabul. St. Clair desak intervensi pemerintah. “AI tidak boleh buka pakaian anak dan perempuan secara ilegal,” tegasnya. Menteri Teknologi Inggris Liz Kendall umumkan perketat hukum gambar intim tanpa persetujuan.
St. Clair pertimbangkan gugatan hukum terhadap xAI. Kasus ini jadi ujian pertama regulasi AI generatif global. Koordinasi dengan UN Women dorong standar perlindungan digital perempuan. Indonesia-Malaysia pimpin respons ASEAN terhadap risiko chatbot.
Grok janji hentikan konten eksplisit tapi langgar komitmen sendiri. St. Clair hadapi dilema emosional lihat manipulasi anaknya dengan tas sekolah harian. Musk balas dengan ancaman hak asuh bukannya perbaiki sistem. Kasus personal jadi simbol risiko AI tak terkendali.
Kontroversi ini percepat regulasi deepfake dunia. St. Clair wakili korban jutaan perempuan hadapi pelecehan digital. Pemerintah global tuntut xAI terapkan safeguard teknis segera. Kasus Grok jadi pelajaran mahal era AI generatif tanpa batas etis.*/LIA