Bekerja di kantor memang penuh tantangan, Sahabat Hawa. Tapi, bagaimana jika atasan justru jadi sumber stres? Kita sering dengar cerita wanita karier yang berjuang hadapi tanda atasan toksik. Artikel ini bantu Anda pahami ciri-cirinya dan cara atasi tanpa buru-buru resign.
Kenali Tanda Atasan Toksik Sehari-hari
Atasan toksik sering buat tim merasa tak nyaman. Pertama, dia suka kritik tanpa saran perbaikan. Misalnya, rapat selesai dengan komentar pedas, tapi tak ada bimbingan. Kedua, tugas diberikan seenaknya tanpa jelaskan prioritas. Anda multitasking antara pekerjaan utama dan urusan mendadak, seperti ibu yang urus anak sambil deadline kantor.
Ketiga, dia main favorit. Beberapa karyawan dapat pujian, yang lain diabaikan. Keempat, komunikasi kasar jadi biasa. Nada tinggi atau sindiran halus bikin suasana tegang. Kelima, dia ambil kredit ide Anda. Presentasi sukses, tapi nama dia yang disebut bos besar. Keenam, jam kerja tak manusiawi. Email jam 10 malam jadi normal, padahal besok ada rapat pagi.
Ketujuh, dia gosip atau buat drama tim. Delapan, tak ada dukungan karir. Promosi lelet, meski Anda rajin. Menurut Dr. Lilian Glass, pakar psikologi dari bukunya “Toxic People”, atasan toksik seperti ini bisa picu burnout pada 70% karyawan wanita yang multitasking rumah dan kantor. Jadi, kenali dini ya, Sahabat Hawa.
Pengaruh Atasan Toksik pada Wanita Karier
Atasan toksik bikin stres menumpuk. Anda capek fisik, tapi emosi lebih parah. Penelitian dari Harvard Business Review tahun 2023 tunjukkan, 60% wanita pekerja alami penurunan produktivitas gara-gara bos toksik. Apalagi bagi ibu muda, ini tambah beban pikir. Namun, jangan panik. Banyak yang sukses atasi tanpa pindah kerja.
Di sisi lain, dampaknya bisa ganggu kesehatan mental. Sakit kepala, sulit tidur, atau bahkan ragu diri sendiri. Tapi, ingat, ini bukan salah Anda. Selain itu, tim juga kena imbas. Morale rendah, turnover tinggi. Oleh karena itu, pahami dulu sebelum ambil langkah.
Cara Hadapi Tanpa Resign Langsung
Pertama, catat bukti perilaku toksik. Simpan email atau catatan rapat. Ini berguna saat bicara HR. Kedua, komunikasi langsung tapi sopan. Coba katakan, “Pak/Bu, saya ingin feedback lebih jelas agar bisa berkembang.” Gunakan “saya” pesan, bukan tuduh.
Ketiga, cari sekutu. Dekati rekan atau mentor lain di kantor. Mereka bisa dukung keluhan Anda. Keempat, atur batas kerja. Balas email hanya jam kerja, kecuali darurat. Kelima, fokus prestasi. Capai target agar posisi tawar kuat. Keenam, rawat diri sendiri. Olahraga atau curhat teman dekat bantu jaga energi.
Selain itu, manfaatkan kebijakan perusahaan. Banyak kantor punya program konseling karyawan. Sementara itu, tingkatkan skill lewat kursus online. Ini buat Anda lebih percaya diri. Dr. Amy Edmondson dari Harvard bilang, “Batas sehat lindungi karier tanpa konflik besar.” Jadi, terapkan pelan-pelan.
Langkah Lanjutan untuk Karier Aman
Jika situasi parah, eskalasi ke HR. Bawa data, bukan emosi. Ceritakan dampak pada tim. Selain itu, bangun jaringan luar kantor. Ikut komunitas wanita karier seperti di LinkedIn. Ini buka peluang baru tanpa resign mendadak.
Terakhir, evaluasi rutin. Tiap bulan, tanyakan diri: “Apa masih sehat di sini?” Banyak Sahabat Hawa yang sukses ubah dinamika tim dengan sabar. Karier Anda berharga. Hadapi tanda atasan toksik dengan cerdas, tetap maju tanpa mundur. Coba tips ini, dan rasakan bedanya!